Thursday, September 29, 2005

Forum Vula Dongga

(Dari penulis: Taman Budaya Sulawesi Tengah pada tahun 2004, meluncurkan sebuah program yang diberi nama "Forum Vula Dongga". Berikut tulisan mengenai program tersebut- Amin Abdullah)

Sambutan Gubernur Sulawesi Tengah yang dibacakan oleh Karo Infokom pemprov, Drs. Burhanuddin Maragau pada penutupan Forum Vula Dongga (Folangga) I merupakan angin segar buat perkembangan seni budaya di Sulawesi Tengah. Beliau mengatakan ke depan agar Taman Budaya diharapkan dapat berfungsi seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) yang berada di Jakarta.
Lontaran ini akan membawa memori kita pada era tahun 70-an dimana pada saat itu merupakan zaman keemasan TIM. Terletak di sebuah kompleks di bilangan Cikini Jakarta, daerah itu menjadi “kawah candradimuka” bertapanya para seniman budayawan yang membawa harum nama bangsa ini bukan saja di lokal Indonesia, namun juga di dunia Internasional.
Disamping itu, tempat ini merupakan tempat berdiskusinya para budayawan yang secara kritis mengevaluasi jalannya pembangunan bangsa menurut kacamata mereka. Sehingga kehadiran TIM sungguhlah terasa hingga saat ini. Mantan Presiden BJ Habibie merasa perlu untuk melakukan orasi kebudayaan di tempat ini untuk meligitimasi diri bahwa dia adalah budayawan juga. Dia pun menggelar karya-karya fotografi kedirgantaraannya di tempat ini. Yang paling aktual di tahun ini adalah pidato kebudayaan Ketua MPR kita saat ini. Pejabat Negara yang berperilaku sangat sederhana ini mengunjungi TIM dan memberikan buah-buah pikirannya.
Singkatnya, TIM adalah sebuah lokasi dimana kesenian dan kebudayaan tidak diartikan secara sempit namun bagian integral dari pembangunan bangsa. Inilah salah satu karya dari mantan Gubernur DKI Ali Sadikin yang akan membuat harum namanya sepanjang masa. Mampukah Taman Budaya Sulawesi Tengah mengemban amanat Gubernur Aminuddin Ponulele untuk meniru fungsi TIM di Jakarta? Jawabannya adalah kerja keras dan ide yang cerdas.

Folangga I
Salah satu produk Taman Budaya yang baru saja dilaksanakan pertama kalinya tahun ini (25 -27 November 2004) adalah Forum Vula Dongga (Folangga). Nama event ini terdiri dari tiga kata yang berarti Forum bulan Purnama atau Full Moon Forum (Ing). Kata vula dongga adalah frase yang diambil dari bahasa Kaili. Sedangkan kata Forum berasal dari bahasa Inggris yang telah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. Perpaduan ketiga kata ini diproyeksikan menjadi sebuah nama kegiatan yang mempunyai dua mata tombak, mengandung unsur muatan lokal sekaligus dapat menjadi kegiatan yang melibatkan dunia internasional.

Vula Dongga diangkat menjadi issue dalam event ini karna dianggap mempunyai muatan tradisi dalam konsep ruang, waktu dan mitos. Hampir seluruh kebudayaan suku bangsa di Indonesia menjadikan momen bulan purnama sebagai saat dimana harapan akan kehidupan yang lebih baik dimulai. Penampakan bulan purnama yang utuh, sempurna dan terang benderang diharapkan dapat terjadi juga dalam keseharian masyarakat.

Pada tradisi masyarakat Sulawesi Tengah, momen bulan purnama adalah saat dimana orang-orang tua melaksanakan ritual-ritual seperti menggunting rambut, membunyikan tetabuhan, tulak bala dan lain sebagainya. Orang-orang muda menggunakan moment bulan purnama sebagai ajang bersosialisasi. Musik-musik seperti karambangan dan tarian dero, notarangati (kegiatan memasak di pinggir jalan) diadakan. Anak-anak bermain dan bergembira menikmati terangnya bulan pada malam hari. Intinya, waktu bulan purnama ada daya dorong kebersamaan untuk saling bertemu.

Proyeksi 15 Tahun ke Depan
Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah bermaksud mengaktualkan kembali moment bulan purnama ini dan tradisi serta mitos yang menyertainya dengan menjadikannya sebagai nama kegiatan. Instansi ini akan menjadikan Forum Vula Dongga sebagai program unggulan atau major event yang akan dilaksanakan setiap tahun. Nama event ini akan tetap dipertahankan dan menjadi “trade mark” Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Sehingga yang berubah adalah angka urutan dan tahun pelaksanaan. Misalnya, dalam penyelenggaraan event serupa tahun depan akan bertajuk Forum Vula Dongga II (2005).
Agenda kegiatan yang menyertai pelaksanaan sebuah Folangga dapat berubah-ubah, namun diharapkan mencakup seluruh cabang kesenian baik seni pertunjukan maupun seni rupa dan menampung seluruh jenis kesenian baik tradisi, popular dan kontemporer. Disamping itu, kegiatan ini diharapkan memberi ruang pada eksebisi-eksebisi ritual dan tradisi masyarakat Sulawesi Tengah yang bersinggungan dengan momen bulan purnama.

Penggunaan kata forum juga dapat diartikan bahwa event ini bukan hanya pertunjukan atau pameran semata. Forum yang berarti pertemuan dapat juga bermuatan kerja intelektual dan kontemplasi semisal orasi, diskusi dan sarasehan yang mengevaluasi pertunjukan dan pameran yang dilaksanakan serta mendiskusikan perkembangan pembangunan seni budaya di daerah provinsi Sulawesi Tengah ke depan untuk mencapai kesetaraan dengan wilayah-wilayah lain.

Forum Vula Dongga akan diproyeksikan hingga 2018 atau 15 tahun ke depan dengan melalui tiga tahapan untuk selanjutnya dievaluasi kembali sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Tahapan lima tahun pertama (2004-2008), forum ini akan memfokuskan diri pada wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Setelah mekanisme kerja tertata baik dan berkesinambungan, maka tahapan lima tahun ke dua dimulai (2009-2013). Pada tahapan II, forum ini diharapkan telah menjadi ajang dimana dapat melibatkan peserta-peserta dan pengunjung di luar Sulawesi Tengah. Dengan kata lain, ajang ini telah menjadi salah satu agenda kesenian nasional untuk wilayah Timur Indonesia. Pada tahapan ke tiga (2014-2018), ajang ini diharapkan telah menjadi ajang nasional dan internasional dimana dapat melibatkan seniman, wisatawan atau ilmuwan dari luar negeri.

Ciri Khas Folangga
Disana-sini nampak kekurangan-kekurangan pelaksanaan Folangga I yang menjadi bahan kajian Taman Budaya Sulawesi Tengah untuk pelaksanaan Folangga II tahun 2005. Evaluasi yang mendalam inilah yang membedakan antara pendekatan program yang diterapkan Taman Budaya dalam melaksanakan Forum ini, dengan pendekatan proyek yang selama ini sering dilakukan birokrasi kita. Pendekatan program membutuhkan diskusi yang intens untuk menutupi kelemahan pelaksanaan sebelumnya dan menajamkan hal yang sudah berlangsung baik.

Sebuah hal yang positif dalam pelaksanaan forum ini adalah tidak melakukan pembinaan terhadap kesenian tradisi dengan semangat kompetitif. Walaupun ada sisi baiknya, semangat kompetitif juga mempunyai efek negatif karena semua peserta datang dengan semangat bertanding dan saling mengalahkan. Padahal, tidak semua yang bisa jadi pemenang. Bagi yang kalah, sering menyalahkan panitia dan dewan juri sehingga menjadi pangkal keributan seperti yang pernah terjadi di Festival Danau Poso.
Dengan mempunyai cara yang berbeda semisal diskusi dan tanya jawab dengan dewan pengamat, maka diharapkan hal ini lebih berguna di kemudian hari dengan cara memberi masukan kepada pelaku tradisi itu dan membiarkan mereka menjadi tokoh terhadap kesenian tradisi yang mereka mainkan. Disamping itu, masyarakat menerima penjelasan langsung dari pelaku tradisi itu.

Ciri khas lain dari forum ini ke depan adalah tidak menjaring peserta dengan pendekatan pembagian administratif semata seperti Kabupaten Poso, Luwuk dsb, tapi pada kantong-kantong kebudayaan atau kelompok-kelompok seni dari skala regional, nasional dan internasional. Disamping itu, akan ada orasi kebudayaan setiap tahunnya dengan mendatangkan pembicara dari luar sehingga kita tidak menjadi pelaku kebudayaan seperti “katak dalam tempurung”. Tahun depan orasi kebudayaan, Insya Allah akan dibawakan oleh Emha Ainun Nadjib.
Kritik dari harian ini yang menyoroti sepinya peserta dan penonton pertunjukan pada pelaksanaan Folangga I menjadi masukan berharga buat kepanitiaan. Kritik tidak harus ditanggapi dengan nakura kodi karena dibutuhkan jiwa yang besar untuk sebuah ide yang besar. Perapi doa, semoga amanat Gubernur dapat terlaksana.

Amin Abdullah

0 Comments:

Post a Comment

<< Home